Kamis lalu, walaupun cukup terlambat dibandingkan linuxer lain yang telah mencoba distro Ubuntu 6.06, aku mencoba menjajal sisi lain dari dunia linux yang selama ini aku kenal, yaitu Debian packages, Ubuntu 6.06 dan GNOME.Sebagai linux user yang telah lama terbenam dalam SUSE/Fedora, Redhat Package Manager dan KDE, serasa seperti gembala yang menemukan padang rumput yang masih perawan rasanya.
Aku akui, ketergantungan terbesarku selama ini adalah pada desktop KDE dan aplikasinya serta kemudahan penggunaannya untuk penggunaan dengan GUI, selebihnya untuk penggunaan command line rasanya tidak ada keterikatan yang berlebihan, command line bukan hal yang asing bagiku dan keadaan yang universal untuk hampir semua distro menyebabkan tidak ada hambatan berarti bila gonta-ganti distro, command line sudah menjadi keharusan dan makanan sehari-hariku sebagai admin lab. komputer sekolah, dimana terdapat dua buah server linux sebagai proxy server(Fedora) dan internal data server(SUSE), keduanya diadministrasi lewat console.
GNOME mungkin adalah desktop yang tidak pernah aku sentuh belakangan ini, perkenalan pertama dengan GNOME terjadi saat aku menginstall distro Mandrake 10.0, saat itu aku melihat GNOME sebagai sesuatu yang sangat sederhana dibandingkan KDE, saat itu sebagai user linux pemula yang berasal dari dunia Windows, KDE betul-betul mempesona sehingga GNOME seolah-olah tersingkirkan, preferensi terhadap KDE terus berlanjut saat aku pindah ke distro SUSE yang memang KDE-minded.
Sebagai pengguna distro SUSE/Fedora, penggunaan RPM sudah menjadi keharusan dan keterampilan yang wajib dimiliki, disamping kompilasi dari source tentunya. penggunaan command seperti rpm -ivh, rpm -e, atau rpm -qa|grep adalah suatu hal yang umum.
Saat dihadapkan pada paket debian, rasanya harus belajar kembali nih.
Tapi nggak susah-susah amat kok, cuma berubah jadi dpkg -i, dpkg -r dan dpkg -l|grep
Akhirnya pandanganku terhadap Debian dan GNOME berubah saat aku menginstall distro Ubuntu 6.06 Dapper Drake pada hari kamis lalu, aku putuskan untuk mencoba distro ini setelah mencoba live cd-nya, aku melihat perubahan yang signifikan dibandingkan GNOME yang aku kenal saat pertama kali melihatnya, integrasi desktopnya terlihat menawan.
langsung saja aku buat partisi baru sebesar 4 GB dengan mengambil tempat dari partisi Windows, sedangkan untuk home partition dan swap menggunakan yang sudah ada, berbagi dengan sistem SUSE 10.0-ku.
Sayangnya, karena sabtu sore aku ada bimbingan belajar dari pukul 17.00 sampai 19.00, niat menginstall aku tunda dulu.
Setelah selesai bimbingan, aku kembali mencoba menginstall Ubuntu ini, dan untungnya berhasil mulus, tidak ada masalah dalam instalasi, hanya masalah minor pada kalibrasi layar, dimana pada resolusi 1280 x 1024 pixel, display bergeser kekanan sehingga meninggalkan ruang kosong disebelah kiri, seharusnya ini bisa diatasi dengan menginstal driver nvidia, seperti pada sistem SUSE-ku.
Karena datang dengan satu live cd sekaligus instaler, maka wajar jika paket program yang disertakan sangat tidak lengkap, sedangkan bila mendownload aku belum bisa sebab saat itu modem internalku belum bisa bekerja. Sedangkan bila mendownload manual rasanya akan perlu usaha ekstra sebab berkaitan dengan masalah dependensi. Akhirnya solusi untuk masalah ini aku temukan di salah satu thread di forum CHIP yang merujuk ke situs Ubuntu Indonesia, solusi yang dimaksud berupa DVD repositori yang didistribusikan secara lokal, DVD ini terdiri dari 3 DVD, yaitu Multiverse, Universe-1 dan Universe-2.
Pada hari jumat, dengan seorang juniorku di klub komputer sebagai penunjuk jalan aku mencari DVD yang dimaksud setelah sebelumnya membuat kesepakatan dengan distributor via SMS, akhirnya dapat juga DVD-nya.
Setelah mendapat DVD tersebut, mulailah aku mengoprek PC-ku, pertama upgrade kernel ke versi 686, dengan perintah sudo dpkg -i, kernel 686 bisa terinstal dan otomatis terkonfigurasi hingga ke GRUB bootloader, jadi ada pilihan untuk kernel 386 atau 686, tapi untuk bootloader, aku mengandalkan bootloader bawaan SUSE.
Selanjutnya untuk driver nvidia, sama mudahnya, tinggal instal paket debiannya dan sedikit pengubahan manual di file /etc/X11/xorg.conf langsung jalan deh, layar jadi sempurna dan akselerasi 3D dapat diaktifkan.
Tantangan terakhir adalah instalasi Smartlink Winmodem, menggunakan paket slamr-2.6.15-23-386.tgz dari linmodems, dapat bekerja pada kernel 386, tinggal eksekusi setup scriptnya, sayangnya dikernel 686 menolak untuk terinstalasi dengan error kira-kira "invalid modules"
ya harus putar otak deh, setelah googling dari sistem SUSE, aku mendapatkan beberapa halaman forum dan tutorial serta mendownload beberapa file yang kira-kira diperlukan, tapi semuanya menolak untuk diinstal, misalnya paket source code menampilkan error saat dikompilasi dan lain sebagainya, tapi akhirnya solusi aku temukan disitus Blog Ubuntu Indonesia.
Nah akhirnya bisa deh, selanjutnya tinggal instalasi paket multimedia yang mengikuti panduan dari Panduan Ubuntu.
Untuk email, aku memilih Thunderbird daripad Evolution, alasannya karena inbox-ku selama ini memang disimpan di Thunderbird, dan Thunderbird di Ubuntu bisa bekerja dengan baik menggunakan folder .thunderbird dari SUSE, begitu juga dengan Firefox.
Mengenai DVD repositori, ada satu masalah yang aku temui saat mencoba menggunakannya dengan perintah sudo apt-cdrom add, program gagal me-mount DVD, sebagai informasi, aku menggunakan DVD-ROM di /dev/hdc dan CD-RW di /dev/hdd tapi program selalu merujuk ke /dev/hdd, bukannya /dev/hdc.
Tapi setelah membaca manual program, aku tambahkan parameter sehingga menjadi
sudo apt-cdrom -m -d=/media/cdrom-1 add
baru deh bisa, tapi mekanisme penggantian DVD saat instalasi lumayan bikin kesel, sebab bisa saja urutannya bertukar-tukar, jadi nggak cukup sekali masukin satu DVD, bisa berulangkali memasukkan DVD yang sama.
akhirnya semua usaha terbayar dengan kepuasan, sebuah desktop sederhana telah hadir dikomputerku.
Aku akui, ketergantungan terbesarku selama ini adalah pada desktop KDE dan aplikasinya serta kemudahan penggunaannya untuk penggunaan dengan GUI, selebihnya untuk penggunaan command line rasanya tidak ada keterikatan yang berlebihan, command line bukan hal yang asing bagiku dan keadaan yang universal untuk hampir semua distro menyebabkan tidak ada hambatan berarti bila gonta-ganti distro, command line sudah menjadi keharusan dan makanan sehari-hariku sebagai admin lab. komputer sekolah, dimana terdapat dua buah server linux sebagai proxy server(Fedora) dan internal data server(SUSE), keduanya diadministrasi lewat console.
GNOME mungkin adalah desktop yang tidak pernah aku sentuh belakangan ini, perkenalan pertama dengan GNOME terjadi saat aku menginstall distro Mandrake 10.0, saat itu aku melihat GNOME sebagai sesuatu yang sangat sederhana dibandingkan KDE, saat itu sebagai user linux pemula yang berasal dari dunia Windows, KDE betul-betul mempesona sehingga GNOME seolah-olah tersingkirkan, preferensi terhadap KDE terus berlanjut saat aku pindah ke distro SUSE yang memang KDE-minded.
Sebagai pengguna distro SUSE/Fedora, penggunaan RPM sudah menjadi keharusan dan keterampilan yang wajib dimiliki, disamping kompilasi dari source tentunya. penggunaan command seperti rpm -ivh, rpm -e, atau rpm -qa|grep adalah suatu hal yang umum.
Saat dihadapkan pada paket debian, rasanya harus belajar kembali nih.
Tapi nggak susah-susah amat kok, cuma berubah jadi dpkg -i, dpkg -r dan dpkg -l|grep
Akhirnya pandanganku terhadap Debian dan GNOME berubah saat aku menginstall distro Ubuntu 6.06 Dapper Drake pada hari kamis lalu, aku putuskan untuk mencoba distro ini setelah mencoba live cd-nya, aku melihat perubahan yang signifikan dibandingkan GNOME yang aku kenal saat pertama kali melihatnya, integrasi desktopnya terlihat menawan.
langsung saja aku buat partisi baru sebesar 4 GB dengan mengambil tempat dari partisi Windows, sedangkan untuk home partition dan swap menggunakan yang sudah ada, berbagi dengan sistem SUSE 10.0-ku.
Sayangnya, karena sabtu sore aku ada bimbingan belajar dari pukul 17.00 sampai 19.00, niat menginstall aku tunda dulu.
Setelah selesai bimbingan, aku kembali mencoba menginstall Ubuntu ini, dan untungnya berhasil mulus, tidak ada masalah dalam instalasi, hanya masalah minor pada kalibrasi layar, dimana pada resolusi 1280 x 1024 pixel, display bergeser kekanan sehingga meninggalkan ruang kosong disebelah kiri, seharusnya ini bisa diatasi dengan menginstal driver nvidia, seperti pada sistem SUSE-ku.
Karena datang dengan satu live cd sekaligus instaler, maka wajar jika paket program yang disertakan sangat tidak lengkap, sedangkan bila mendownload aku belum bisa sebab saat itu modem internalku belum bisa bekerja. Sedangkan bila mendownload manual rasanya akan perlu usaha ekstra sebab berkaitan dengan masalah dependensi. Akhirnya solusi untuk masalah ini aku temukan di salah satu thread di forum CHIP yang merujuk ke situs Ubuntu Indonesia, solusi yang dimaksud berupa DVD repositori yang didistribusikan secara lokal, DVD ini terdiri dari 3 DVD, yaitu Multiverse, Universe-1 dan Universe-2.
Pada hari jumat, dengan seorang juniorku di klub komputer sebagai penunjuk jalan aku mencari DVD yang dimaksud setelah sebelumnya membuat kesepakatan dengan distributor via SMS, akhirnya dapat juga DVD-nya.
Setelah mendapat DVD tersebut, mulailah aku mengoprek PC-ku, pertama upgrade kernel ke versi 686, dengan perintah sudo dpkg -i, kernel 686 bisa terinstal dan otomatis terkonfigurasi hingga ke GRUB bootloader, jadi ada pilihan untuk kernel 386 atau 686, tapi untuk bootloader, aku mengandalkan bootloader bawaan SUSE.
Selanjutnya untuk driver nvidia, sama mudahnya, tinggal instal paket debiannya dan sedikit pengubahan manual di file /etc/X11/xorg.conf langsung jalan deh, layar jadi sempurna dan akselerasi 3D dapat diaktifkan.
Tantangan terakhir adalah instalasi Smartlink Winmodem, menggunakan paket slamr-2.6.15-23-386.tgz dari linmodems, dapat bekerja pada kernel 386, tinggal eksekusi setup scriptnya, sayangnya dikernel 686 menolak untuk terinstalasi dengan error kira-kira "invalid modules"
ya harus putar otak deh, setelah googling dari sistem SUSE, aku mendapatkan beberapa halaman forum dan tutorial serta mendownload beberapa file yang kira-kira diperlukan, tapi semuanya menolak untuk diinstal, misalnya paket source code menampilkan error saat dikompilasi dan lain sebagainya, tapi akhirnya solusi aku temukan disitus Blog Ubuntu Indonesia.
Nah akhirnya bisa deh, selanjutnya tinggal instalasi paket multimedia yang mengikuti panduan dari Panduan Ubuntu.
Untuk email, aku memilih Thunderbird daripad Evolution, alasannya karena inbox-ku selama ini memang disimpan di Thunderbird, dan Thunderbird di Ubuntu bisa bekerja dengan baik menggunakan folder .thunderbird dari SUSE, begitu juga dengan Firefox.
Mengenai DVD repositori, ada satu masalah yang aku temui saat mencoba menggunakannya dengan perintah sudo apt-cdrom add, program gagal me-mount DVD, sebagai informasi, aku menggunakan DVD-ROM di /dev/hdc dan CD-RW di /dev/hdd tapi program selalu merujuk ke /dev/hdd, bukannya /dev/hdc.
Tapi setelah membaca manual program, aku tambahkan parameter sehingga menjadi
sudo apt-cdrom -m -d=/media/cdrom-1 add
baru deh bisa, tapi mekanisme penggantian DVD saat instalasi lumayan bikin kesel, sebab bisa saja urutannya bertukar-tukar, jadi nggak cukup sekali masukin satu DVD, bisa berulangkali memasukkan DVD yang sama.
akhirnya semua usaha terbayar dengan kepuasan, sebuah desktop sederhana telah hadir dikomputerku.
